Waktu yang tak pernah kunjung berakhir, bergulir meniti jalan-jalan setapak diantara pepohonan dan perbukitan. gundukan-gundukan tanah yang saling berlomba menyentuh langit dan memandang lautan, mengumandangkan syair kehidupan tanpa batas, menghembuskan sepoi angin malam dan suara-suaranya dalam temaram sinar rembulan.
Selamat malam Crist Bennet*, di ujung sebuah perjalanan yang tak mungkin begitu saja di lupakan, berhentilah sejenak untuk menoleh ke sekeliling, berputar tengkuk dgn nafas yang sedikit menderu, melampiaskan sedikit lelah dan penat. Di ujung sebuah bukit, di antara bebatuan yang menilik ke segala penjuru mata angin. Lelaki itu, berdiri dan bergeming memandang rembulan yang terang dan tenang. cahayanya yang menyelusup diantara dedauan, berlomba mencari tempat untuk sebuah siluet.
Kalibiru, andai hari itu kau bisa mengumandangkan suara-suara serunai anak gunung, bersama gending-gending dan juga syair lagu-lagu padang bulan, alangkah terasa begitu senyap dari keributan kota, suatu hari kau akan dirindukan sesiapa yang pernah menjamahmu.
Desau angin masih mendera dedaun, bukit-bukit padas kecil yang hampir tertutup semak. tak kan lekang dalam sebuah kenangan. Kalibiru, seandainya kau perempuan kau adalah keayuan seluruh alam seandainya kau adalah laki-laki kau adalah jejaka yang menanti rembulan sang kekasih akan muncul di malam yang lengang.
Crist Bennet* terdiam, berulang kali mengelilingkan pandangan. berkali-kali pula menghela nafas dengan senyum yang siap menyambut siapapun, anak-anak, orang tua, remaja dan seluruh isi alam yang bergerak di permukaan buana.
Dewa-dewi akan memeberkatimu, para leluhur akan selalu melindungimu dari gigitan jaman yang semakin mencengkeram dan mencekam. ……… Sampai jumpa lagi Crist Bennet.
———— ——— ——— —-
*Crist bennet adalah nama sebuah batu di ujung sebuah bukit di kawasan wisata Kalibiru
Handoko
pandjoel_here@ yahoo.com