<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>pusaka alam dan lingkungan kulon progo</title>
	<atom:link href="http://alamkulonprogo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com</link>
	<description>...bumi menoreh alam kehidupanku tercinta...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Apr 2009 06:30:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alamkulonprogo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>pusaka alam dan lingkungan kulon progo</title>
		<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alamkulonprogo.wordpress.com/osd.xml" title="pusaka alam dan lingkungan kulon progo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alamkulonprogo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Christ Bennet van Kalibiru</title>
		<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/29/christ-bennet-van-kalibiru/</link>
		<comments>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/29/christ-bennet-van-kalibiru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 06:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/29/christ-bennet-van-kalibiru/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu yang tak pernah kunjung berakhir, bergulir meniti jalan-jalan setapak diantara pepohonan dan perbukitan. gundukan-gundukan tanah yang saling berlomba menyentuh langit dan memandang lautan, mengumandangkan syair kehidupan tanpa batas, menghembuskan sepoi angin malam dan suara-suaranya dalam temaram sinar rembulan. Selamat malam Crist Bennet*, di ujung sebuah perjalanan yang tak mungkin begitu saja di lupakan, berhentilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=15&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu yang tak pernah kunjung berakhir, bergulir meniti jalan-jalan setapak diantara pepohonan dan perbukitan. gundukan-gundukan tanah yang saling berlomba menyentuh langit dan memandang lautan, mengumandangkan syair kehidupan tanpa batas, menghembuskan sepoi angin malam dan suara-suaranya dalam temaram sinar rembulan.</p>
<p>Selamat malam Crist Bennet*, di ujung sebuah perjalanan yang tak mungkin begitu saja di lupakan, berhentilah sejenak untuk menoleh ke sekeliling, berputar tengkuk dgn nafas yang sedikit menderu, melampiaskan sedikit lelah dan penat. Di ujung sebuah bukit, di antara bebatuan yang menilik ke segala penjuru mata angin. Lelaki itu, berdiri dan bergeming memandang rembulan yang terang dan tenang. cahayanya yang menyelusup diantara dedauan, berlomba mencari tempat untuk sebuah siluet.</p>
<p>Kalibiru, andai hari itu kau bisa mengumandangkan suara-suara serunai anak gunung, bersama gending-gending dan juga syair lagu-lagu padang bulan, alangkah terasa begitu senyap dari keributan kota, suatu hari kau akan dirindukan sesiapa yang pernah menjamahmu.</p>
<p>Desau angin masih mendera dedaun, bukit-bukit padas kecil yang hampir tertutup semak. tak kan lekang dalam sebuah kenangan. Kalibiru, seandainya kau perempuan kau adalah keayuan seluruh alam seandainya kau adalah laki-laki kau adalah jejaka yang menanti rembulan sang kekasih akan muncul di malam yang lengang.</p>
<p>Crist Bennet* terdiam, berulang kali mengelilingkan pandangan. berkali-kali pula menghela nafas dengan senyum yang siap menyambut siapapun, anak-anak, orang tua, remaja dan seluruh isi alam yang bergerak di permukaan buana.</p>
<p>Dewa-dewi akan memeberkatimu, para leluhur akan selalu melindungimu dari gigitan jaman yang semakin mencengkeram dan mencekam. &#8230;&#8230;&#8230; Sampai jumpa lagi Crist Bennet.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;-<br />
*Crist bennet adalah nama sebuah batu di ujung sebuah bukit di kawasan wisata Kalibiru</p>
<p>Handoko<br />
pandjoel_here@ yahoo.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alamkulonprogo.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alamkulonprogo.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=15&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/29/christ-bennet-van-kalibiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dewo dan Tanaman Sirih Merah dari Merapi</title>
		<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/15/dewo-dan-tanaman-sirih-merah-dari-merapi/</link>
		<comments>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/15/dewo-dan-tanaman-sirih-merah-dari-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 19:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kreativitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/15/dewo-dan-tanaman-sirih-merah-dari-merapi/</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS: Selasa, 14 April 2009 &#124; 02:36 WIB Oleh Idha Saraswati Memasuki Kampung Blunyahrejo, Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, Kota Yogyakarta, mata kita langsung tertumbuk pada sebuah rumah bambu yang tingginya melebihi rumah-rumah lain di sekitarnya. Pot-pot dengan beraneka tanaman hijau memenuhi ruang-ruang dalam bangunan bertingkat empat yang terbuat dari bambu itu dan tanaman sirih merah mendominasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=12&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="tglct">KOMPAS: Selasa, 14 April 2009 | 02:36 WIB</span></p>
<p style="text-align:left;">Oleh<strong> Idha Saraswati</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-13" title="dewo" src="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/dewo.jpg?w=500" alt="dewo"   />Memasuki Kampung Blunyahrejo, Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, Kota Yogyakarta, mata kita langsung tertumbuk pada sebuah rumah bambu yang tingginya melebihi rumah-rumah lain di sekitarnya. Pot-pot dengan beraneka tanaman hijau memenuhi ruang-ruang dalam bangunan bertingkat empat yang terbuat dari bambu itu dan tanaman sirih merah mendominasi di sini.</p>
<p>Persentuhan Bambang Sudewo atau Dewo panggilannya dengan sirih merah berawal dari sebuah kebetulan. Suatu pagi pada tahun 2002, pria yang punya hobi mendaki gunung ini tengah berjalan-jalan di lereng Gunung Merapi.</p>
<p>Saat dia berada tidak jauh dari tempat tinggal juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, Dewo tertegun melihat tumbuhan yang dirasakannya aneh. Tanaman itu merambat di sela-sela bebatuan. Rasa penasaran kemudian menuntunnya memetik sehelai daun tumbuhan itu, lalu dikunyahnya. Rasanya, cerita Dewo, sungguh pahit.</p>
<p>Bukannya kecewa, rasa pahit yang dihasilkan daun itu justru membuat Dewo merasa senang. Sebab, berdasarkan pengalamannya sebagai peracik jamu, daun maupun buah yang terasa pahit, seperti brotowali (Tinosporae crispa), bidara upas (Merremia mammosa) maupun mahoni (Swietenia mahagoni jacq), biasanya memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.</p>
<p>Dewo yang ketika itu sedang menderita diabetes mellitus mencoba memotong tumbuhan tersebut beserta belasan helai daunnya untuk dibawa pulang. Sebagian dia konsumsi dan sebagian lainnya dia tanam di rumah.</p>
<p>Selama dua minggu dia mengonsumsi daun tersebut, Dewo merasa tekanan darah tinggi dan kolesterol dalam tubuhnya berangsur membaik. Luka-luka melepuh di sekujur tubuh akibat penyakit diabetes juga dirasakan mulai mengering.</p>
<p>Lelaki ini lantas semakin giat mencari informasi seputar tumbuhan tersebut. Dari sumber literatur yang terbatas, Dewo mengetahui bahwa tumbuhan itu selama ini dikenal sebagai sirih merah (Piper betle L var Rubrum).</p>
<p>Selain aroma daunnya yang khas daun sirih, bentuk daun tumbuhan ini memang menyerupai sirih yang biasa kita kenal. Bedanya, permukaan bagian bawah daun sirih ini berwarna merah mengilat. Meski belum secara massal, tanaman ini ternyata telah dimanfaatkan sebagai tanaman obat, terutama di lingkungan Keraton Yogyakarta.</p>
<p>” Tanaman ini mungkin ada di mana-mana, tidak hanya di (Gunung) Merapi, tetapi saya baru melihat yang di lereng Merapi itu,” ungkapnya.</p>
<p>Merasa berjodoh dengan khasiat tumbuhan tersebut, Dewo yang telah membuka perusahaan jamu berskala industri rumahan berlabel Sekar Kedathon, pada tahun 1997 mulai fokus menggali manfaat sirih merah.</p>
<p><strong>Skala besar</strong></p>
<p>Lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual, Institut Seni <a id="pilih">Indonesia</a> Yogyakarta, ini semakin rajin mencari informasi seputar tanaman sirih merah. Sejumlah perpustakaan dan toko buku dia datangi. Ia juga berkonsultasi dengan beberapa pakar tanaman herbal, dokter, sampai budayawan dalam proses mengolah tanaman sirih merah.</p>
<p>Tahun 2004 Dewo mulai memasarkan ramuan teh herbal dari sirih merah. Ia barangkali adalah orang pertama yang mengolah sirih merah sebagai industri herbal. Eksplorasi terhadap manfaat sirih merah itu terus berlanjut sehingga ia bisa menciptakan produk-produk lain dari tanaman tersebut.</p>
<p>Untuk membuat produknya, setiap bulan Dewo memerlukan sekitar lima kuintal daun sirih merah basah. Bahan baku itu diolah menjadi berbagai produk, di antaranya teh herbal celup, teh herbal seduh, berbagai kapsul dari ekstrak sirih merah, sampai teh pelangsing.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, perusahaan herbal milik Dewo berkembang pesat. Jika pada tahun 1997 ia bekerja sendiri, belakangan dia dibantu 25 karyawan.</p>
<p>Produk-produk yang dihasilkan Dewo itu telah mendapat pengesahan dari Badan Pusat Pengawas Obat-obatan dan Makanan. Kini, semua produk Dewo bisa dikatakan sudah tersebar di kota-kota besar di seluruh <a id="pilih">Indonesia</a> serta diekspor ke Malaysia dan Brunei.</p>
<p><strong>Kemitraan</strong></p>
<p>Untuk menjamin pasokan bahan baku sirih merah, Dewo menjalin kemitraan dengan para petani di sejumlah daerah, baik di kawasan DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Tak kurang dari 50 petani yang bekerja sama dengannya.</p>
<p>”Saya tidak punya lahan, jadi lebih baik mengembangkan sistem kerja sama dengan para petani sirih merah,” ujarnya.</p>
<p>Selain menyediakan bibit yang semuanya merupakan keturunan tanaman yang dia bawa dari lereng Gunung Merapi, Dewo juga membeli hasil panen sirih merah dari petani.</p>
<p>Daun sirih merah dengan lebar delapan sentimeter, dia beli dengan harga Rp 120.000 per kilogram. Adapun daun sirih merah super dengan lebar minimal 11 cm dihargai Rp 150.000 per kilogram.</p>
<p>Meski usahanya relatif berhasil, Dewo belum puas. Ia mengaku masih punya berbagai obsesi terkait pengembangan sirih merah. Selama ini sumber literatur tentang sirih merah masih sangat terbatas. Ia berharap ada penelitian lebih lanjut agar segenap potensi tanaman sirih merah bisa bermanfaat bagi masyarakat.</p>
<p>”Alam telah menyediakan segalanya. Masalahnya, bagaimana kita menemukan dan mengolahnya menjadi obat yang bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.</p>
<p><strong>Lahan terbatas</strong></p>
<p>Keseriusan Dewo dalam mengolah tanaman sirih merah sebagai tanaman obat bisa dilihat dari rumah bambu miliknya. Kata dia, rumah bambu itu dibangun untuk menyiasati lahan yang terbatas. Dengan bentuk vertikal, dia memiliki banyak ruang untuk membudidayakan bibit sirih merah.</p>
<p>Bibit dari rumah bambu inilah yang kemudian ditanam para petani di ladangnya masing- masing. Beberapa bulan kemudian, bibit-bibit itu akan kembali ke rumah bambu tersebut dalam bentuk lembaran daun sirih merah yang berguna sebagai bahan baku obat herbal. Di rumah bambu Dewo pula, lembar-lembar daun sirih merah itu diolah menjadi beraneka produk obat herbal.</p>
<p>Rumah bambu ini menutupi lahan seluas 1.000 meter persegi. Di lantai satu dan dua, sirih merah yang ditanam dalam pot-pot kecil menjalar ke atas kayu-kayu penopangnya.</p>
<p>Di lantai tiga dan empat rumah itu tersedia meja dan kursi yang biasa dipakai para tamu bersantai sambil menikmati ramuan daun sirih merah.</p>
<p>”Memang sering ada tamu berobat ke sini. Sambil menunggu, para tamu bisa ngisis (mencari angin) sambil melihat tanaman dan menikmati teh sirih merah,” kata Dewo tentang rumah bambunya.</p>
<p>Ruang-ruang dalam rumah bertingkat dari bambu ini dibangun sesuai dengan lingkungan sekitar yang ditumbuhi banyak pohon besar. Sambil duduk menikmati semilir angin di lantai tiga atau lantai empat, para tamu bisa meraih buah asam atau buah sawo yang berada di pohon sekitarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alamkulonprogo.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alamkulonprogo.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=12&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/15/dewo-dan-tanaman-sirih-merah-dari-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/dewo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dewo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petrus Sugito, Pelestari Durian Menoreh</title>
		<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/03/petrus-sugito-pelestari-durian-menoreh/</link>
		<comments>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/03/petrus-sugito-pelestari-durian-menoreh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 16:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kreativitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/03/petrus-sugito-pelestari-durian-menoreh/</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS: Sabtu, 7 Februari 2009 &#124; 00:10 WIB Yoga Putra Pertengahan 1986 Petrus Sugito bertanya kepada seorang penjual buah, durian apa yang paling enak. Tak diduga, si penjual buah menyebut durian menoreh dari Kulon Progo. Jawaban sederhana itu justru membuatnya terperangah. Gito, panggilannya, benar- benar tidak tahu bahwa ada jenis durian menoreh. Bahkan, itulah kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=8&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span class="tglct">KOMPAS: Sabtu, 7 Februari 2009 | 00:10 WIB</span></p>
<p><strong>Yoga Putra</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-9" title="3184888p" src="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/3184888p.jpg?w=500" alt="3184888p"   />Pertengahan 1986 Petrus Sugito bertanya kepada seorang penjual buah, durian apa yang paling enak. Tak diduga, si penjual buah menyebut durian menoreh dari Kulon Progo. Jawaban sederhana itu justru membuatnya terperangah.</p>
<p>Gito, panggilannya, benar- benar tidak tahu bahwa ada jenis durian menoreh. Bahkan, itulah kali pertama dia mendengar nama durian menoreh. Padahal, dia adalah putra asli Kulon Progo.</p>
<p>Dia lahir dan besar di daerah Perbukitan Menoreh, lokasi penghasil jenis durian tersebut, tepatnya di Dusun Promasan, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p>Gito lalu bercerita, percakapan singkatnya dengan si penjual buah puluhan tahun lalu itu telah menumbuhkan rasa penasaran dia terhadap durian menoreh. Ia juga mendapatkan informasi tambahan bahwa jenis durian itu amat langka di pasar karena masih tumbuh liar di hutan.</p>
<p>”Saya pikir, wah, durian menoreh adalah peluang bisnis yang potensial. Rasanya enak dan banyak diminati orang. Berarti durian tersebut harus bisa dibudidayakan,” tutur bapak tiga anak itu.</p>
<p>Berbekal keingintahuan yang besar, Gito yang dahulu bekerja sebagai petani ladang mulai gencar berburu durian menoreh. Ia memulai petualangannya pada awal tahun 1987.</p>
<p>Ditemani Ruwet Subiyanti, istrinya, ia kemudian merambah setiap sudut wilayah Kecamatan Kulon Progo yang berada di sekitar Perbukitan Menoreh, mulai dari Girimulyo, Kokap, Kalibawang, Samigaluh, Pengasih, sampai ke Nanggulan.</p>
<p><span lang="FI">Lebih dari 700 buah durian masuk ke perutnya selama dua tahun masa perburuan. Dengan hanya mengandalkan ketajaman indra pengecapan dan penciuman, Gito berhasil menemukan tiga jenis durian menoreh yang paling enak. </span>Ketiganya berasal dari Dusun Promasan dan Dusun Slanden di Desa Banjaroyo.</p>
<p><span lang="FI">Tak berhenti sampai di situ, Gito lalu menanam biji durian menoreh di halaman rumah. Ia juga meminta potongan mata tunas di batang pohon indukan yang sudah tumbuh besar milik warga setempat, antara lain Noto Priyo, Sukidal, dan Kasiyatun.</span></p>
<p><span lang="FI">”Pohon durian milik Noto Priyo itu daging buahnya tebal, sedangkan daging buah durian punya Sukidal warnanya kuning. Kalau daging buah durian milik Bu Kasiyatun warnanya jingga,” cerita Gito seraya memerinci keunggulan dari masing-masing pohon durian indukan itu.</span></p>
<p><span lang="FI">Akan tetapi, menanam durian ternyata bukan perkara mudah. Dari 80 biji yang dia tanam, hanya enam yang bisa tumbuh. Setelah berusia dua minggu, pohon-pohon muda itu lalu disambung dengan mata tunas dari pohon indukan. Itu pun masih kerap gagal.</span></p>
<p><span lang="FI">”Pokoknya, setelah mencoba tiga kali menanam biji dan menempelkan mata tunas, saya baru berhasil menumbuhkan 15 tanaman,” kata anggota Kelompok Tani Mamprih Subur itu.</span></p>
<p><strong><span lang="FI">Titik terang</span></strong></p>
<p><span lang="FI">Jerih payah Gito menemukan titik terang sekitar tahun 2000. Kabar keunggulan durian menoreh yang ia budidayakan tersiar ke mana-mana, termasuk ke telinga para pejabat Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.</span></p>
<p><span lang="FI">Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo lalu meneliti durian menoreh dan mengusulkannya sebagai varietas durian unggul nasional. Usulan ini direspons pemerintah pusat.</span></p>
<p><span lang="FI">Puncaknya, pada 8 Mei 2007 Menteri Pertanian menerbitkan surat keputusan yang isinya menyatakan, durian varietas menoreh kuning dan jambon (jingga) sebagai varietas unggulan nasional.</span></p>
<p><span lang="FI">Durian menoreh dinilai unggul karena memiliki warna daging buah jingga dan kuning cerah, aromanya tajam, rasa manis, dan ukuran buahnya relatif besar. </span>Lebih khas lagi, daging buah durian menoreh tebal, tak berserat, dan kesat. Daging buahnya mudah dipisahkan dari biji.</p>
<p>”Wah, saat itu saya bangga bukan main. Tidak sia-sia kerja saya selama 20 tahun, durian ndeso Kulon Progo bisa naik pamor ke tingkat nasional,” ujarnya.</p>
<p>Sejak itu Gito tak lagi menghabiskan waktu di ladang, ia merawat pohon-pohon durian. Belakangan ia sering berkeliling Kulon Progo dan kabupaten lain di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, bahkan hingga Thailand, berbagi ilmu menanam durian.</p>
<p><span lang="FI">Gito juga membuka lapangan kerja baru di dusunnya. Tak kurang dari 50 warga, baik petani maupun bukan, dia libatkan dalam proses budidaya durian menoreh. Ada yang bertugas merawat bibit, menyemai benih, mengisi tanah ke dalam kantung plastik (polybag), dan sebagainya.</span></p>
<p>Setelah berusia 6-8 bulan, bibit durian menoreh siap dijual. Harganya mulai Rp 7.500 sampai Rp 35.000 per batang tergantung kualitasnya. Selama dua tahun terakhir, Gito menghasilkan 2.000 batang.</p>
<p><strong>Modal koperasi</strong></p>
<p>Peminat bibit durian menoreh cukup banyak, mulai dari warga DI Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Sumatera. Pembeli ditanggung tak akan kecewa karena bibit itu bersertifikat.</p>
<p>”Uang hasil penjualan bibit kami gunakan untuk modal koperasi yang juga akan kembali ke anggota dan warga sekitar. Kami tidak mengenal sistem penggajian,” tuturnya.</p>
<p>Meski sudah berhasil meraih pencapaian relatif besar, Gito tetap gelisah. Ia jengah dengan serbuan durian impor jenis monthong dari Thailand ke Indonesia.</p>
<p>”Ingin rasanya membuat para penggemar durian di Tanah Air berpaling ke durian menoreh,” katanya.</p>
<p>Sayangnya, durian menoreh hanya bisa hidup di daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. <span lang="FI">Padahal, budidaya durian skala besar di atas bukit amat sulit lantaran luas hamparan lahan terbatas.</span></p>
<p>”Durian menoreh juga lambat berproduksi. Setelah enam tahun baru berbuah. Pohonnya tinggi-tinggi. Jadi petani sering sulit memanennya,” katanya.</p>
<p>Untuk menyiasatinya, Gito mengatur penyiraman dan pemberian pupuknya. <span lang="FI">Tanah di sekitar pohon tak boleh terlalu basah atau terlalu kering sebab tanaman bisa mati. Langkah lainnya adalah dengan memangkas pohon secara teratur agar buah durian mudah dipetik.</span></p>
<p>Saat musim berbuah yang berlangsung November hingga Februari, dari satu pohon durian bisa menghasilkan 50-100 buah. Harga jualnya Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per buah. Dari hasil penjualan durian tersebut, para petani dapat meningkatkan taraf ekonomi rumah tangganya.</p>
<p><span lang="FI">”Sudah bukan zamannya lagi petani hidup sengsara. </span>Apalagi petani yang tinggal di daerah terpencil seperti saya. Kalau mau berusaha, petani juga bisa sejahtera,” kata Gito.</p>
<p>Ia bangga upaya yang berawal dari pekarangan rumah itu belakangan ini telah berkembang sedemikian rupa. Bibit durian menoreh kini bisa dijumpai dengan mudah nyaris di sepanjang jalan masuk Dusun Promasan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><br />
<strong>Biodata</strong></span></strong></p>
<p><strong>Nama:</strong> Petrus Sugito</p>
<p><strong>Lahir:</strong> Kalibawang, Kulon Progo, DI Yogyakarta, 19 Oktober 1956</p>
<p><strong>Istri:</strong> Ruwet Subiyanti (49)</p>
<p><strong>Anak:</strong></p>
<p><span lang="FI">- Ida (24),</span></p>
<p><span lang="FI">- Kristianto (21),</span></p>
<p><span lang="FI">- Tri Cahyono (11)</span></p>
<p><strong><span lang="FI">Aktivitas:</span></strong></p>
<p><span lang="FI">- Petani durian menoreh</span></p>
<p><span lang="FI">- Anggota Kelompok Tani Mamprih Subur</span></p>
<p><strong><span lang="FI">Pendidikan:</span></strong></p>
<p><span lang="FI">- SD Negeri Promasan, 1963–1969</span></p>
<p><span lang="FI">- Kursus Pertanian Tanaman Tani, 1981</span></p>
<p><span lang="FI"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alamkulonprogo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alamkulonprogo.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=8&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/03/petrus-sugito-pelestari-durian-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/3184888p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3184888p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Djoko, Katak, dan Kerusakan Lingkungan</title>
		<link>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/02/hello-world/</link>
		<comments>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/02/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 20:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djarotpurbadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[CORNELIUS HELMY Kompas: Selasa, 24 Maret 2009 &#124; 05:08 WIB Bagi sebagian orang, katak dan kodok adalah hewan yang menjijikkan karena kulitnya berlendir, bahkan ada yang beracun. Namun, bagi Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog atau peneliti reptil dan amfibi dari Institut Teknologi Bandung, katak adalah salah satu amfibi yang seksi dan khas. CORNELIUS HELMY HERLAMBANG Katak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=1&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span class="tglct"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="txfotocetak"><span lang="FI">CORNELIUS HELMY</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="tglct"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="tglct"><span lang="FI">Kompas: Selasa, 24 Maret 2009 | 05:08 WIB</span></span><span lang="FI"> </span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-6" title="0638338p" src="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/0638338p.jpg?w=500" alt="0638338p"   />Bagi sebagian orang, katak dan kodok adalah hewan yang menjijikkan karena kulitnya berlendir, bahkan ada yang beracun. Namun, bagi Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog atau peneliti reptil dan amfibi dari Institut Teknologi Bandung, katak adalah salah satu amfibi yang seksi dan khas. CORNELIUS HELMY HERLAMBANG</p>
<p>Katak dengan warna kulitnya, cara hidup, hingga bentuknya yang beraneka ragam menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, karena bisa hidup di air dan di darat, katak dapat digunakan untuk mengukur adanya kerusakan lingkungan hidup. <span lang="FI">Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan.</span></p>
<p><span lang="FI">”Keanekaragaman katak di Indonesia adalah surga bagi peneliti. Kini baru 400-500 spesies katak yang ditemukan di Indonesia. Kemungkinan besar masih banyak katak yang menunggu ditemukan,” katanya.</span></p>
<p><span lang="FI">Djoko membuktikannya sendiri dengan menjelajah ke berbagai tempat di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua. Hasil penelitiannya antara lain 16 jenis baru katak, diakui sebagai kontribusi yang penting.</span></p>
<p><span lang="FI">Oleh karena itu, para peneliti asing mengabadikan penemuan ini untuk menghormati dia, antara lain dengan menamakan temuannya sebagai Collocasiomya iskandari (2000), Luperosaurus iskandari (2003), Fejervarya iskandari (2004), dan Draco iskandari (2007).</span></p>
<p><span lang="FI">Ia juga melakukan penelitian ilmiah pada beberapa katak khas Indonesia lainnya, seperti katak tanpa paru-paru, yakni katak kepala pipih kalimantan (Barbourula kalimantanensis).</span></p>
<p><span lang="FI">Sempat mendeskripsikan jenis itu pada 1978, Djoko berhasil menemukan kembali tahun 2007 di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat. Katak ini merupakan satu-satunya katak di dunia yang bernapas tanpa paru-paru, tetapi menggunakan kulit. Nenek moyangnya diyakini sudah ada sejak 50 juta tahun lalu.</span></p>
<p><span lang="FI">International Union for Conservation of Nature lalu memberikan perlindungan kepada katak kepala pipih sebagai satwa yang terancam punah. Diperkirakan jumlahnya terbatas dan merupakan endemik di Kalimantan.</span></p>
<p><span lang="FI">Djoko juga menemukan katak unik lain di Sulawesi tahun 1989. Uniknya, katak yang hingga kini belum diberi nama itu tak bertelur, tetapi merupakan katak pertama di dunia yang melahirkan kecebong.</span></p>
<p><strong><span lang="FI">Minim informasi</span></strong></p>
<p><span lang="FI">Keahlian menemukan dan mendeskripsikan berbagai macam katak spesies baru itu tak didapat Djoko dengan mudah. Minimnya data membuat dia harus mengawali studi katak dari penduduk kampung hingga berkorespondensi dengan ahli katak terkemuka dunia.</span></p>
<p><span lang="FI">Satu per satu peneliti katak dunia dia kirimi surat berisi pertanyaan dan penelitian tentang katak di Asia atau Indonesia. Peneliti hewan terkenal dunia yang dihubunginya antara lain RF Inger.</span></p>
<p><span lang="FI">”Jawabannya memakan waktu yang lama. Saat itu teknologi belum maju karena kami hanya memakai jasa pos. Namun, hati saya sangat senang karena data yang diberikan banyak dan lengkap,” kata pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB ini.</span></p>
<p><span lang="FI">Ia juga banyak belajar dari penduduk lokal. Salah satu pengalamannya ketika mencari katak di hutan Sulawesi tahun 1990-an. Sebagai orang baru di dunia katak, ia bersemangat masuk hutan hendak mencari katak pada siang hari. Namun, hal itu justru mengundang tanya penduduk setempat.</span></p>
<p><span lang="FI">Seorang penduduk mengatakan, mencari katak pada siang hari itu tindakan sia-sia. Waktu ideal mencari katak ternyata malam hari. Dia sadar, pengalamannya di dunia katak belum banyak.</span></p>
<p><span lang="FI">Hal serupa dia alami ketika mencari katak kepala pipih di Kalimantan pada 2007. </span>Ia buta tentang tempat tinggal dan cara hidup katak kepala pipih. <span lang="FI">Satu-satunya informasi adalah katak yang pernah dibawa temannya, seorang ahli ikan, dari Kalimantan tahun 1978. Jadilah, hingga hari ke-10 ia belum menemukan si kepala pipih. Padahal, biasanya katak dengan informasi lengkap bisa ditemukan dengan segera.</span></p>
<p><span lang="FI">Baru pada hari ke-12, timnya menemukan dua ekor katak kepala pipih yang hidup di bawah batu sekitar sungai. Namun, saat hendak diteliti dan dimasukkan ke dalam ember, katak itu mati.</span></p>
<p><span lang="FI">”Sampai mati dua ekor katak. Setelah dibedah, baru diketahui dia tak punya paru-paru. Katak itu ternyata bernapas menggunakan kulit,” katanya.</span></p>
<p><span lang="FI">Meski telah menemukan berbagai katak spesies baru, Djoko belum merasa puas. Ia yakin, masih banyak jenis katak lain yang hidup dan belum pernah ditemukan di Indonesia.</span></p>
<p><span lang="FI">Minimnya informasi itu adalah ironi. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah spesies katak yang banyak, tetapi tak lebih dari 20 peneliti katak di negeri ini.</span></p>
<p><span lang="FI">”Berbeda dengan negara-negara di Eropa. Di tiap negara minimal ada seorang herpetolog. Data yang dimiliki sangat lengkap, dari nenek moyang katak hingga yang kini masih hidup. Padahal, di dataran Eropa katak hanya sekitar 40 jenis,” ujarnya.</span></p>
<p><strong><span lang="FI">Warisan dunia</span></strong></p>
<p><span lang="FI">Belajar dari pengalaman itu, Djoko mulai rajin menulis buku dan publikasi di berbagai tempat. Hingga kini 68 publikasi internasional dan sembilan buku telah diterbitkan. Selain itu, 45 publikasi nasional dan 10 buku bisa dinikmati masyarakat.</span></p>
<p><span lang="FI">Bahkan, lebih dari 100 presentasi internasional dan nasional telah dia lakukan. </span>Tempatnya pun bermacam-macam, dari ruang seminar internasional di Singapura hingga kebun binatang di Bandung.</p>
<p><span lang="FI">Akan tetapi, menurut Djoko, usaha itu harus ditingkatkan, terutama dengan menambah jumlah peneliti katak. Meski tak berpotensi menambah pundi harta peneliti, penelitian katak adalah usaha pertanggungjawaban pada keanekaragaman hayati Indonesia. Bahkan, mungkin suatu hari nanti ada kegunaan lain dari hasil penelitian berbagai katak tersebut.</span></p>
<p><span lang="FI">Katak, diyakini Djoko, bisa dipublikasikan, baik sebagai lambang daerah atau taman nasional. Dia berharap, setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidup katak bisa terjaga.</span></p>
<p><span lang="FI">Selain itu, masih banyak kemungkinan yang bisa digali. Contohnya, berbagai pertanyaan pada penelitian katak berkepala pipih.</span></p>
<p><span lang="FI">”Dunia ini masih memiliki banyak ilmu yang belum digali. Tugas semua pihak adalah hadir di sana, mencari ide baru, lantas mengabarkannya kepada semua orang. </span>Itulah inti dari hadirnya ilmu dalam masyarakat,” katanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alamkulonprogo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alamkulonprogo.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alamkulonprogo.wordpress.com&amp;blog=7212050&amp;post=1&amp;subd=alamkulonprogo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamkulonprogo.wordpress.com/2009/04/02/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9eaa45ba147dc871c0f03f703cd3059?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">djarotpurbadi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://alamkulonprogo.files.wordpress.com/2009/04/0638338p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">0638338p</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
